Kamis, 29 November 2012

QURAISH SHIHAB DAN TAFSIR AL-MISBAH



A. Pendahuluan
Tafsir adalah penjelasan Alquran. Bagi orang asing, Alquran perlu diperjelas supaya dapat dicerna, apakah itu dari tejemahan, atau penjelasan. Terjemahan atau penjelasan sendiri tergolong dalam tafsir. Di Indonesia khususnya, tidak semua masyarakat Islam dapat memahami ayat Alquran secara langsung, perlu adanya terjemahan resmi dan standar, dalam hal ini, telah dilakukan dan distandarkan oleh Departemen Agama. Jauh dari itu, banyak para pemikir ke-Islaman di Indonesia, juga menafsirkan ayat-ayat Alquran, seperti HAMKA, Hasbi ash-Shiddiqi, dll.
Quraish Shihab, adalah pemikir kontemporer, yang masih hidup dan eksis, yang mengkidmatkan dirinya untuk Islam. Di antara usaha itu adalah dia ikut dalam tim penerjemah Alquran Departemen Agama, selain memiliki Alquran terjemahan pribadi. Dia juga menafsirkan Alquran secara lengkap, tiga puluh juz, dengan menggunakan bahasa Indonesia.
Nama tafsir Quraish Shihab itu adalah Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an. Tafsir ini terdiri dari lima belas volume, dan menafsirkan Alquran secara lengkap, tiga puluh juz Alquran.
Tafsir Quraish Shihab ini sangat berpengaruh di Indonesia. Bukan hanya menggunakan corak baru dalam penafsiran, yang berbeda dengan pendahulunya, beliau juga menyesuaikan dengan konteks ke-Indonesiaan. Sesuai dengan namanya, al-Mishbah yang berarti penerang, lampu, lentera, atau sumber cahaya, penulis tafsir, Quraish Shihab, berharap dengan tafsirnya ini, masyarakat Indonesia akan tercerahkan, dan memiliki pandangan baru yang positif terhadap Alquran dan Islam.
Tafsir Al-Mishbah telah dicetak berulang kali, di antaranya dicetak oleh Penerbit Lentera Hati di Ciputat pada tahun 2009, dengan edisi lux dan dengan tampilan yang membuat pembaca tertarik untuk membacanya.
Dalam artikel yang sederhana ini, penulis berusaha membahas latar belakang penulis tafsir, metodologi yang digunakan, corak penafsiran yang digunakan, contoh penafsiran, komentar ulama, dan analisis kelebihan dan kelemahan.

B. Latar Belakang Intelektual Penulis
            Penulis Tafsir al-Mishbah bernama Muhammad Quraish Shihab, lahir di Rampang, Sulawesi Selatan, pada 16 Februari 1944. Ia berasal dari keluarga keturunan Arab yang terpelajar. Ayahnya, Prof. Abdurrahman Shihab adalah seorang ulama dan guru besar dalam bidang tafsir. Abdurrahman Shihab dipandang sebagai salah seorang ulama, pengusaha, dan politikus yang memiliki reputasi baik di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan. Kontribusinya dalam bidang pendidikan terbukti dari usahanya membina dua perguruan tinggi di Ujung Pandang, yaitu Universitas Muslim Indonesia (UMI), sebuah perguruan tinggi swasta terbesar di kawasan Indonesia bagian timur, dan IAIN Alauddin Ujung Pandang. Ia juga tercatat sebagai rektor pada kedua perguruan tinggi tersebut: UMI 1959-1965 dan IAIN 1972–1977.
Quraish Shihab sama seperti anak-anak yang lain, ia juga mengenyam pendidikan. Pendidikan dasarnya, ia selesaikan di di Ujung Pandang, selanjutnya, Quraish Shihab belajar di pendidikan menengahnya di Malang. Tidak hanya itu, dia juga ‘nyantri’ di Pondok Pesantren Darul Hadits Al-Faqihiyyah. Pada 1958, dia berangkat ke Kairo, Mesir, dan diterima di kelas II Tsanawiyyah al-Azhar. Pada 1967, dia meraih gelar Lc. (S-1) pada Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir dan Hadis Universitas al-Azhar. Kemudian dia melanjutkan pendidikannya di fakultas yang sama, dan pada 1969 meraih gelar MA untuk spesialisasi bidang Tafsir Alquran dengan tesis berjudul      al-I'jaz al-Tasyri'iy li al-Qur’an al-Karim.[1]
Sekembalinya ke Ujung Pandang, Quraish Shihab dipercayakan untuk menjabat Wakil Rektor bidang Akademis dan Kemahasiswaan pada IAIN Alauddin, Ujung Pandang. Selain itu, dia juga diserahi jabatan-jabatan lain, baik di dalam kampus seperti Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Wilayah VII Indonesia Bagian Timur), maupun di luar kampus seperti Pembantu Pimpinan Kepolisian Indonesia Timur dalam bidang pembinaan mental. Selama di Ujung Pandang ini, dia juga sempat melakukan berbagai penelitian; antara lain, penelitian dengan tema "Penerapan Kerukunan Hidup Beragama di Indonesia Timur" (1975) dan "Masalah Wakaf Sulawesi Selatan" (1978).[2]

Pada 1980, Quraish Shihab kembali ke Kairo dan melanjutkan pendidikannya di almamaternya yang lama, Universitas Al-Azhar. Pada 1982, dengan disertasi berjudul Nazhm al-Durar li al-Biqa'iy, Tahqiq wa Dirasah, dia berhasil meraih gelar doktor dalam ilmu-ilmu Alquran dengan yudisium Summa Cum Laude disertai penghargaan tingkat I (mumtat ma'a martabat al-syaraf al-'ula).
Sekembalinya ke Indonesia, sejak 1984, Quraish Shihab ditugaskan di Fakultas Ushuluddin dan Fakultas Pasca-Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Selain itu, di luar kampus, dia juga dipercayakan untuk menduduki berbagai jabatan. Antara lain: Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat (sejak 1984); Anggota Lajnah Pentashih Al-Quran Departemen Agama (sejak 1989); Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (sejak 1989), dan Ketua Lembaga Pengembangan. Dia juga banyak terlibat dalam beberapa organisasi profesional; antara lain: Pengurus Perhimpunan Ilmu-ilmu Syari'ah; Pengurus Konsorsium Ilmu-ilmu Agama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan; dan Asisten Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).[3]
Di sela-sela segala kesibukannya itu, dia juga terlibat dalam berbagai kegiatan ilmiah di dalam maupun luar negeri. Yang tidak kalah pentingnya, Quraish Shihab juga aktif dalam kegiatan tulis-menulis. Di surat kabar Pelita, pada setiap hari Rabu dia menulis dalam rubrik "Pelita Hati." Dia juga mengasuh rubrik "Tafsir Al-Amanah" dalam majalah dua mingguan yang terbit di Jakarta, Amanah. Selain itu, dia juga tercatat sebagai anggota Dewan Redaksi majalah Ulumul Qur'an dan Mimbar Ulama, keduanya terbit di Jakarta.[4]
            Quraish Shihab memang bukan satu-satunya pakar Alquran dan tafsir  di Indonesia, tetapi kemampuannya menerjemahkan dan meyampaikan pesan-pesan Alquran dalam konteks kekinian dan masa post modern membuatnya lebih dikenal dan lebih unggul daripada pakar Alquran dan tafsir lainnya. Dalam hal penafsiran, ia cenderung menekankan pentingnya penggunaan metode tafsir maudu’i (tematik), yaitu penafsiran dengan cara menghimpun sejumlah ayat Alquran yang tersebar dalam berbagai surah yang membahas masalah yang sama, kemudian menjelaskan pengertian menyeluruh dari ayat-ayat tersebut dan selanjutnya menarik kesimpulan sebagai jawaban terhadap masalah yang menjadi pokok bahasan. Menurutnya, dengan metode ini dapat diungkapkan pendapat-pendapat Alquran tentang berbagai masalah kehidupan, sekaligus dapat dijadikan bukti bahwa ayat Alquran sejalan dengan perkembangan iptek dan kemajuan peradaban masyarakat.
Ketertarikannya terhadap tafsir Alquran sangat beralasan. Semenjak kecil ia didik dengan Alquran, karena Ayahnya adalah pakar Alquran dan tafsir. Quraish kecil telah menjalani pergumulan dan kecintaan terhadap Alquran sejak umur 6-7 tahun. Ia harus mengikuti pengajian Alquran yang diadakan oleh ayahnya sendiri. Selain menyuruh membaca Alquran, ayahnya juga menguraikan secara sepintas kisah-kisah dalam Alquran. Di sinilah, benih-benih kecintaannya kepada Alquran mulai tumbuh.[5]
            Sebagai ulama yang produktif, Quraish Shihab memiliki banyak karya, sebagai berikut:
  1. Tafsir al-Manar, Keistimewaan dan Kelemahannya (Ujung Pandang, IAIN Alauddin, 1984);
  2. Untaian Permata Buat Anakku (Bandung: Mizan 1998);
  3. Pengantin al-Qur'an (Jakarta: Lentera Hati, 1999);
  4. Haji Bersama Quraish Shihab (Bandung: Mizan, 1999);
  5. Sahur Bersama Quraish Shihab (Bandung: Mizan 1999);
  6. Shalat Bersama Quraish Shihab (Jakarta: Abdi Bangsa);
  7. Puasa Bersama Quraish Shihab (Jakarta: Abdi Bangsa);
  8. Fatwa-fatwa (4 Jilid, Bandung: Mizan, 1999);
  9. Satu Islam, Sebuah Dilema (Bandung: Mizan, 1987);
  10. Filsafat Hukum Islam (Jakarta: Departemen Agama, 1987);
  11. Pandangan Islam Tentang Perkawinan Usia Muda (MUI & Unesco, 1990);
  12. Kedudukan Wanita Dalam Islam (Departeman Agama);
  13. Membumikan al-Qur'an (Bandung: Mizan, 1994);
  14. Lentera Hati (Bandung: Mizan, 1994);
  15. Studi Kritis Tafsir al-Manar (Bandung: Pustaka Hidayah, 1996);
  16. Wawasan al-Qur'an (Bandung: Mizan, 1996);
  17. Tafsir al-Qur'an (Bandung: Pustaka Hidayah, 1997);
  18. Hidangan Ilahi, Tafsir Ayat-ayat Tahlili (Jakarta: Lentara Hati, 1999);
  19. Jalan Menuju Keabadian (Jakarta: Lentera Hati, 2000);
  20. Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an (15 Jilid, Jakarta: Lentera Hati, 2003);
  21. Jilbab Pakaian Wanita Muslimah; dalam Pandangan Ulama dan Cendekiawan Kontemporer (Jakarta: Lentera Hati, 2004);
  22. Dia di Mana-mana; Tangan Tuhan Di balik Setiap Fenomena (Jakarta: Lentera Hati, 2004);
  23. Perempuan (Jakarta: Lentera Hati, 2005);
  24. Logika Agama; Kedudukan Wahyu & Batas-Batas Akal Dalam Islam (Jakarta: Lentera Hati, 2005);
  25. Rasionalitas al-Qur'an; Studi Kritis atas Tafsir al-Manar (Jakarta: Lentera Hati, 2006);
  26. Menabur Pesan Ilahi; al-Qur'an dan Dinamika Kehidupan Masyarakat (Jakarta: Lentera Hati, 2006);
  27. Wawasana al-Qur'an; Tentang Dzikir dan Doa (Jakarta: Lentera Hati, 2006);
  28. Asma' al-Husna; Dalam Perspektif al-Qur'an (Jakarta: Lentera Hati);
  29. Al-Lubab; Makna, Tujuan dan Pelajaran dari al-Fatihah dan Juz 'Amma (Jakarta: Lentera Hati);
  30. 40 Hadits Qudsi Pilihan (Jakarta: Lentera Hati);
  31. Berbisnis dengan Allah; Tips Jitu Jadi Pebisnis Sukses Dunia Akhirat (Jakarta: Lentera Hati);
  32. Menjemput Maut; Bekal Perjalanan Menuju Allah Swt. (Jakarta: Lentera Hati);
  33. M. Quraish Shihab Menjawab; 101 Soal Perempuan yang Patut Anda Ketahui (Jakarta: Lentera Hati);
  34. M. Quraish Shihab Menjawab; 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui (Jakarta: Lentera Hati);
  35. Seri yang Halus dan Tak Terlihat; Jin dalam al-Qur'an (Jakarta: Lentera Hati);
  36. Seri yang Halus dan Tak Terlihat; Malaikat dalam al-Qur'an (Jakarta: Lentera Hati);
  37. Seri yang Halus dan Tak Terlihat; Setan dalam al-Qur'an (Jakarta: Lentera Hati);
  38. Al-Qur'an dan Maknanya (Jakarta: Lentera Hati);
  39. Membumikan al-Qur'an Jilid 2; Memfungsikan Wahyu dalam Kehidupan (Jakarta: Lentera Hati).

Dengan tidak bermaksud menempatkan Quraish Shihab sebagai ulama yang suci, melihat dari kapabelitasnya sebagai seorang ulama kontemporer, tidak diragukan lagi keahliannya dalam menafsirkan Alquran.

C. Metode Penafsiran
Setidaknya, menurut pakar tafsir al-Azhar University, Dr. Abdul Hay al-Farmawi, dalam penafsiran Alquran dikenal empat macam metode tafsir, yakni metode tahlili, metode ijmali, metode muqaran, dan metode maudhu’i.[6] Tafsir Al-Mishbah secara khusus, agaknya dapat dikategorikan dalam metode tafsir tahlili.
Metode tafsir tahlili merupakan cara menafsirkan ayat-ayat Alquran dengan mendeskripsikan uraian-uraian makna yang terkandung dalam ayat-ayat Alquran dengan mengikuti tertib susunan surat-surat dan ayat-ayat sebagaimana urutan mushaf Alquran, dan sedikit banyak melakukan analisis di dalamnya: dari segi kebahasaan, sebab turun, hadis atau komentar sahabat yang berkaitan, korerasi ayat dan surat, dll.[7]
            Secara khusus, biasanya ketika Quraish Shihab menafsirkan Alquran, menjelaskan terlebih dahulu tentang surat yang hendak ditafsirkan: dari mulai makna surat, tempat turun surat, jumlah ayat dalam surat, sebab turun surat, keutamaan surat, sampai kandungan surat secara umum. Kemudian Quraish Shihab menuliskan ayat secara berurut dan tematis, artinya, menggabungkan beberapa ayat yang dianggap berbicara suatu tema tertentu. Selanjutnya, Quraish Shihab menerjemahkan ayat satu persatu, dan menafsirkannya dengan menggunakan analisis korelasi antar ayat atau surat, analisis kebahasaan, riyawat-riwayat yang bersangkutan, dan pendapat-pendapat ulama telah terdahulu.
            Dalam hal pengutipan pendapat ulama lain, Quraish Shihab menyebutkan nama ulama yang bersangkutan. Di anara ulama yang menjadi sumber pengutipan Quraish Shihab adalah Muhammad Thahir Ibnu `Asyur dalam tafsirnya at-Tahrir wa at-Tanwir;[8] Muhammad Husain ath-Thabathaba’i dalam tafsirnya al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an;[9] al-Biqa’i; asy-Sya`rawi; al-Alusi; al-Ghazali; dll. Walau dalam menafsirkan Alquran, Quraish Shihab sedikit banyaknya mengutip pendapat orang lain, namun sering kali dia mencantumkan pendapatnya, dan dikontektualisasi pada keadaan Indonesia.
D. Corak Penafsiran
            Dalam menentukan corak tafsir dari suatu kitab tafsir, yang diperhatikan adalah hal yang dominan dalam tafsir tersebut. Menurut Dr. Abdul Hay al-Farmawi menjelaskan bahwa dalam tafsir tahlili ada beberapa corak penafsiran, yakni tafsir bi al-Ma`tsur, tafsir bi ar-Ray`, tafsir ash-Shufi, tafsir al-Fiqhi, tafsir al-Falsafi, tafsir al-`Ilmi, dan tafsir al-Adabi al-Ijtima`i.[10]
            Dari pengamatan penulis pada Tafsir al-Mishbah, bahwa tafsir ini bercorak tafsir al-Adabi al-Ijtima`i. Corak tafsir ini terkonsentrasi pada pengungkapan balaghah dan kemukjizatan Alquran, menjelaskan makna dan kandungan sesuai hukum alam, memperbaiki tatanan kemasyarakatan umat, dll.[11]
            Dalam Tafsir al-Misbah, hal ini sangat jelas terlihat. Sebagai contoh, ketika Quraish Shihab menafsirkan kata هَوْنًا dalam surat al-Furqan ayat 63. Quraish Shihab menjelaskan:
“Kata (هَوْنًا) haunan berarti lemah lembut dan halus. Patron kata yang di sini adalah mashdar/indefinite noun yang mengandung makna “kesempurnaan”. Dengan demikian, maknanya adalah penuh dengan kelemahlembutan.
Sifat hamba-hamba Allah itu, yang dilukiskan dengan (يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْناً) yamsyuna `ala al-ardhi haunan/berjalan di atas bumi dengan lemah lembut, dipahami oleh banyak ulama dalam arti cara jalan mereka tidak angkuh atau kasar. Dalam konteks cara jalan, Nabi Saw. mengingatkan agar seseorang tidak berjalan dengan angkuh, membusungkan dada. Namun, ketika beliau melihat seseorang berjalan menuju arena perang dengan penuh semangat dan terkesan angkuh, beliau bersabda: “Sungguh cara jalan ini dibenci oleh Allah, kecuali dalam situasi (perang) ini.” (HR. Muslim).
Kini, pada masa kesibukan dan kesemrawutan lalu lintas, kita dapat memasukkan dalam pengertian kata (هَوْنًا) haunan, disiplin lalu lintas dan penghormatan terhadap rambu-rambunya. Tidak ada yang melanggar dengan sengaja peraturan lalu lintas kecuali orang yang angkuh atau ingin menang sendiri sehingga berjalan dengan cepat dengan melecehkan kiri dan kanannya.
Penggalan ayat ini bukan berarti anjuran untuk berjalan perlahan atau larangan tergesa-gesa. Nabi Muhammad Saw. dilukiskan sebagai yang berjalan dengan gesit, penuh semangat, bagaikan turun dari dataran tinggi.”[12]

            Dari sini jelas, usaha Quraish Shihab untuk memperbaiki tatanan kehidupan sosial sungguh kuat, sehingga masalah disiplin lalu lintas pun disinggung dalam tafsirannya, walau pun mungkin sebagai contoh. Jadi wajar dan sangat pantas sekali, kalau tafsirnya ini digolongkan dalam corak al-Adabi al-Ijtima`i.

E. Contoh Tafsiran
            Untuk menjelaskan contoh tafsiran Quraish Shihab, penulis mengambil salah satu ayat, yakni surat al-An`am ayat 2:
هُوَ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن طِينٍ ثُمَّ قَضَى أَجَلاً وَأَجَلٌ مُّسمًّى عِندَهُ ثُمَّ أَنتُمْ تَمْتَرُونَ.
            Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukan-Nya ajal dan ada lagi suatu ajal yang ditentukan di sisi-Nya, kemudian kamu masih terus-menerus ragu-ragu.[13]
            Dalam hal ini, penulis terkonsentrasi pada “sesudah itu ditentukan-Nya ajal dan ada lagi suatu ajal yang ditentukan di sisi-Nya”. Menurut Quraish Shihab, pendapat yang terkuat tentang arti ajal adalah ajal kematian dan ajal kebangkitan karena biasanya Alquran menggunakan kata ajal bagi manusia dalam arti kematian. Ajal yang pertama adalah kematian, yang paling tidak dapat diketahui oleh orang lain yang masih hidup setelah kematian seseorang. Sedangkan ajal yang kedua adalah ajal kebangkitan, yang tidak diketahui kecuali oleh Allah SWT.[14]
            Untuk memperkuat ini, kembali ditegaskan oleh Quraish bahwa pembentukan diri manusia, dengan segala potensi yang dianugrahkan Allah, menjadikan dia dapat hidup dengan normal, bisa jadi sampai seratus atau seratus dua puluh tahun; inilah yang tertulis dalam lauh al-mahwu wa al-itsbat. Tetapi semua bagian dari alam raya memiliki hubungan dan pengaruh dalam wujud atau kelangsungan hidup makhluk. Bisa jadi, faktor-faktor dan penghalang yang tidak diketahui jumlahnya itu saling memengaruhi dalam bentuk yang tidak kita ketahui sehingga tiba ajal sebelum berakhir waktu kehidupan normal yang mungkin bisa sampai pada batas100 atau 120 tahun itu.[15]
            Quraish kembali menjelaskan, hal inilah yang dimaksud sementara ulama Ahlus Sunnah dinamai dengan qadha’ muallaq dan qadha’ mubram. Ada ketetapan Allah yang bergantung dengan berbagai syarat yang bisa jadi tidak terjadi karena berbagai faktor, antara lain karena doa, dan ada juga ketetapan-Nya yang pasti dan tidak dapat berubah sama sekali.[16]      

F. Komentar Ulama
            Jika dilihat berbagai situs, akan didapati banyak sekali pujian buat Tafsir al-Mishbah ini. Dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya, satu kesepakatan, bahwa satu-satunya buku tafsir Indonesia yang paling banyak diminati adalah Tafsir al-Mishbah: dari mulai kalangan menengah sampai kalangan terdidik.
            Dari sini, wajar ketika pemerhati karya tafsir Nusantara, Howard M. Federspiel, merekomendasikan bahwa karya-karya tafsir M. Quraish Shihab pantas dan wajib menjadi bacaan setiap Muslim di Indonesia sekarang.
KH. Abdullah Gymnastiar – Aa Gym menjelaskan, “Setiap kata yang lahir dari rasa cinta, pengetahuan yang luas dan dalam, serta lahir dari   sesuatu yang telah menjadi bagian dirinya niscaya akan memiliki kekuatan daya sentuh, daya hunjam dan daya dorong bagi orang-orang yang menyimaknya. Demikianlah yang saya rasakan ketika membaca tulisan dari guru yang kami cintai, Prof. Dr. M. Quraish Shihab.” Hj. Khofifah Indar Parawansa, “Sistematika tafsir ini sangat mudah dipahami dan tidak hanya oleh mereka yang mengambil studi Islam khususnya tetapi juga sangat penting dibaca oleh seluruh kalangan, baik akademis, santri, kyai, bahkan sampai kaum muallaf.”
Ir. Shahnaz Haque, “Membaca buku-buku M. Quraish Shihab, kita sangat beruntung karena pakar ini berani dan mampu membuka kerang dan menunjukkan mutiara-mutiara yang ada di dalamnya, hal yang memang dicari oleh umat yang sedang dahaga akan bantuan serta keindahan.” Chrismansyah Rahadi – Chrisye, “Kebebasan untuk menafsirkan sesuai dengan kemampuan pemikiran kita, tentunya dengan dasar-dasar Al-Quran dan Hadits, dan berpijak pada ketentuan-ketentuan yang ditetapkan Allah SWT. Penulisannya sangat komunikatif dan dapat dibayangkan visualisasinya.” Ala kulli hal, tafsir ini sangat bermanfaat dan penting untuk dibaca dan dikaji.

G. Analisis Kelebihan dan Kelemahan
Sebagaimana telah dijelaskan di atas, bahwa Tafsir al-Mishbah adalah tafsir yang sangat penting di Indonesia, yang tentunya memiliki banyak kelebihan. Di antaranya:
  1. Tafsir ini sangat kontekstual dengan kondisi ke-Indonesiaan, dalamnya banyak merespon beberapa hal yang aktual di dunia Islam Indonesia atau internasional.
  2. Quraish Shihab meramu tafsir ini dengan sangat baik dari berbagai tafsir pendahulunya, dan meraciknya dalam bahasa yang mudah dipahami dan dicerna, serta dengan sistematika pembahasan yang enak diikuti oleh para penikmatnya.
  3. Quraish Shihab orang yang jujur dalam menukil pendapat orang lain, ia sering menyebutkan pendapat pada orang yang berpendapat.
  4. Quraish Shihab juga menyebutkan riwayat dan orang yang meriwayatkannya. Dan masih banyak keistimewaan yang lain.
  5. Dalam menafsirkan ayat, Quraish tidak menghilangkan korelasi antar ayat dan antar surat.
Dengan segala kelebihan yang dimiliki oleh Tafsir al-Mishbah, tafsir ini juga memiliki berbagai kelemahan, diantaranya;
  1. Dalam berbagai riwayat dan beberapa kisah yang dituliskan oleh Quraish dalam tafsirnya, terkadang tidak menyebutkan perawinya, sehingga sulit bagi pembaca, terutama penuntut ilmu, untuk merujuk dan berhujjah dengan kisah atau riwayat tersebut. Sebagai contoh sebuah riwayat dan kisah Nabi Shaleh dalam tafsir surat al-A`raf ayat 78.[17]
  2. Menurut sebagian sementara Islam di Indonesia, beberapa penafsiran Quraish dianggap keluar batas Islam, sehingga tidak jarang Quraish Shihab digolongkan dalam pemikir liberal Indonesia. Sebagai contoh penafsirannya mengenai jilbab, takdir, dan isu-isu keagamaan lainnya. Namun, menurut penulis sendiri, tafsiran ini merupakan kekayaan Islam, bukan sebagai pencorengan terhadap Islam itu sendiri.

H. Penutup
            Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan beberapa hal: pertama, nama lengkap Tafsir al-Mishbah adalah Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an, terdiri dari 30 juz Alquran, dan lima belas volume.
            Kedua, nama pengarang tafsir ini adalah Muhammad Quraish Shihab bin Abdurrahman Shihab, seorang ulama kontemporer Indonesia yang menuntut ilmu di Universitas tertua di dunia, al-Azhar University, lahir di Sulawesi Selatan, dan sekarang masih akhtif menulis dan memberikan kontribusi positif bagi umat Islam, khususnya Indonesia.
            Ketiga, metode yang digunakan dalam Tafsir al-Mishbah adalah metode tahlili, sedangkan corak yang digunakan corak tafsir al-Adabi al-Ijtima`i.
            Keempat, kelebihan dalam Tafsir al-Mishbah sangat banyak sekali, kalau pun ada kekurangannya tidak dapat menghilangkan kelebihannya yang sangat dominan. Oleh sebab itu, tidak jarang ulama kontemporer memuji tafsir tersebut, atau bahkan menjadikannya rujukan studi Islam secara ilmiah, dan dijadikan hujjah. 
Allahu a`lam.



DAFTAR PUSTAKA

Ibn `Asyur, Muhammad ath-Thahir. Tafsir at-Tahrir wa at-Tanwir. Tunis: Dar as-
Suhnun, 1997.
Al-Farmawi, Abdul Hayy. al-Bidayah fi al-Tafsir al-Maudhu’i. Kairo: Dar ath-
thaba’ah wa an-Nasyr al-Islami, 2005.
Shihab, M. Quraish. Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an.
Bandung: Lentera Hati, 2009. Volume IX.
Shihab, M. Quraish. Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an.
Bandung: Lentera Hati, 2009. Volume IV.
Shihab, M. Quraish. Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an.
Bandung: Lentera Hati, 2009. Volume III
Shihab, M. Quraish. Membumikan Al-Quran: Fungsi dan Peran Wahyu dalam
Kehidupan Masyarakat. Bandung: Al-Mizan, 1999.
Ath-Thabathaba’i, Muhammad Husain. al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an. Bairut:
Muassasah al-A`lami li al-Mathbu`at, 1991.

Rabu, 03 Oktober 2012

Syekh Abdul Halim Hasan Binjai dan Tafsir al-Ahkam



A. Pendahuluan
Tafsir adalah penjelasan Alquran. Bagi orang asing, Alquran perlu diperjelas supaya dapat dicerna, apakah itu dari tejemahan, atau penjelasan. Terjemahan atau penjelasan sendiri tergolong dalam tafsir. Di Indonesia khususnya, tidak semua masyarakat Islam dapat memahami ayat Alquran secara langsung, perlu adanya terjemahan resmi dan standar, dalam hal ini, telah dilakukan dan distandarkan oleh Departemen Agama. Jauh dari itu, banyak para pemikir ke-Islaman di Indonesia, juga menafsirkan ayat-ayat Alquran, seperti HAMKA, Hasbi ash-Shiddiqi, Abdul Halim Hasan, M. Quraish Shihab, dll.
Dari nama-nama mufassir tersebut, ada Abdul Halim Hasan yang berasal dari Sumatra Utara, tepatnya Binjai. Ulama yang satu ini memiliki dua kitab tafsir. Pertama, Tafsir Al-Qur’an Al-Karim, yang lebih dikenal dengan Tafsir Tiga Serangkai, karena Abdul Halim menyusunnya bersama dua ulama lain: Zainal Arifin Abbas dan Abdurrahim Haitami. Kedua, Tafsir Al-Ahkam. Tafsir yang terakhir inilah yang menjadi objek kajian dalam makalah sederhana ini.
Dari namanya, al-Ahkam, tergambar dalam benak pembaca, tafsir ini berbicara tentang hukum, tepatnya ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum Islam. Pengetahuan terhadap kandungan hukum dalam Alquran merupakan hal penting bagi setiap muslim. Pengetahuan yang mendalam terhadap ayat-ayat hukum dalam Alquran pada gilirannya akan melahirkan tafsir hukum yang fleksibel, sesuai dengan perkembangan zaman. Hal inilah yang dilakukan Abdul Halim Hasan Binjai dalam tafsirnya al-Ahkam.
Untuk zamannya, tafsir al-Ahkam karya Abdul Halim ini adalah karya pertama berbahasa Indonesia. Sebelumnya, banyak ulama menulis tafsir ayat-ayat hukum, atau menjelaskan aspek hukum lebih dominan, di Timur Tengah, sebut saja contohnya Tafsir Ahkam al-Qur’an karya Ibnul `Arabi, Tafsir Ahkam al-Qur’an karya al-Kaya al-Harasi, Tafsir al-Jami` li Ahkam al-Qur’an karya al-Qurthubi, Tafsir Ayat al-Ahkam karya Ali as-Sayis, Tafsir Ayat al-Ahkam karya Ali ash-Shabuni, dll. Di antara banyak karya ini, untuk Indonesia, karya Abdul Halim adalah satu-satunya tafsir yang berbicara tentang ayat-ayat hukum secara khusus, dengan Tafsir al-Ahkam.
Dalam artikel yang sederhana ini, penulis berusaha membahas latar belakang penulis tafsir, metodologi yang digunakan, corak penafsiran yang digunakan, contoh penafsiran, komentar ulama, dan analisis kelebihan dan kelemahan.
B. Latar Belakang Intelektual Penulis
Nama pengarang Tafsir al-Ahkam adalah Syaikh Abdul Halim Hasan, di lahirkan di Binjai, Sumatera Utara, pada tanggal 15 Mei 1901. Orang tuanya bernama Hasan yang bekerja sebagai petani. Sejak kecil, Abdul Halim telah menunjukkan sifat-sifat yang terpuji. Ia tidak mau membuang waktunya sia-sia. Di samping membantu orang tuanya, waktunya dihabiskan untuk membaca buku-buku pelajaran. Melihat karya-karyanya, tampak bahwa Abdul Halim sejak kecil termasuk Si “Kutu Buku”. Bahkan tidak berlebihan jika disebut, ciri keulamaannya telah tampak sejak kecil yang ditunjukkannya dengan ketekunan dalam melaksanakan shalat fardhu lima waktu. Tidak itu saja, ia juga merupakan anak yang sangat rajin menuntut ilmu, terlebih-lebih ilmu agama.[1]
Pendidikan Abdul Halim di mulai dari Sekolah Rakyat. Ia sangat suka mempelajari tentang ilmu keagamaan. Di antara gurunya: Fakih Saidi Haris, Haji Abdullah Umar, Syekh H. M. Nur Ismail, Syekh H. Samah, Kyai H. Abd Karim Tamim, Syekh Hasan Ma’sum dan SyekhMukhtar al-Tarid sewaktu menunaika haji di Makkah. Guru-gurunya tersebut memiliki disiplin Ilmu yang beragam. Hal ini tergambar dari keahliah Abdul Halim sendiri, yang pakar dalam bidang fikih, sejarah, hadis, dan tafsir. Abdul Halim tidak merasa puas hanya pada ilmu agama saja. Ia juga belajar ilmu-ilmu umum. Ia belajar kepada Djamaluddin Adinegoro dalam bidang politik, pers dan jurnalistik pada tahun 1930. selain itu, ia juga mempelajari bahasa Inggris dari Mr. Ridwan.[2]
Sejak berusian 20 tahun, Abdul Halim telah berprofesi sebagai guru pada madrasah Jam`iyatul Khairiyah di Binjai. Pada waktu ia diangkat menjadi pimpinan madrasah, tepatnya tahun 1927, nama madrasah Jam`iyatul Khairiyah ditukar menjadi Madrasah Arabiyah. Abdul Halim juga menerapkan menajemen modern dalam mengelola madrasah. Salah satu cirinya adalah ia menempatkan seseorang sesuai keahliannya masing-masing. Sebagai contoh, untuk pelajaran agama dipandu oleh Usman Doa dan Aja Syarif. Pelajaran agama dan dagang di pegang oleh M. Idris Karim dan M. Sidik Aminoto. Pelajaran agama dam ilmiah diasuh oleh Abdurrahim Haitami dan Zainal Arifin Abbas sedangkan pelajaran agama dan pemuda dipegang oleh al-Ustaz M. Ilyas Amin.[3]
Abdul Halim menyadari alat yang paling penting untuk menyampaikan sebuah pesan adalah tulisan. Kendati biasanya seorang dai terbiasa berdakwah dengan oral, namun Abdul Halim tidak puas, dan menyempurnakan metode dakwahnya dengan tulisan. Beranjak dari kesadaran inilah, dalam menyampaikan misinya sebagai pimpinan madrasah ataupun sebagai seorang ulama, ia telah menggunakan media tulisan dalam tingkat produktivitas yang tinggi.
Abdul Halim sangat produktif dan rajin menulis, dan sering diterbitkan di media al-Islam yang diterbitkan di Sumatera Timur waktu itu. Biasanya, tulisan-tulisan ini singkat dan bersifat ulasan-ulasan sederhana mengenai persoalan hukum dan masalah-masalah yang aktual di masyarakat. Ia juga rajin menulis buku. Karyanya kebanyakan menyangkut hukum Islam dan sejarah. Namun, karyanya yang paling monumental adalah Tafsir Al-Qur’an al-Karim yang ditulis bersama dua orang temannya, dan Tafsir al-Ahkam yang dibahas dalam makalah ini. Karyanya yang lain adalah: Bingkisan Adab dan Hikmah; Sejarah Fikih; Wanita dan Islam; Hikmah Puasa; Lailat al-Qadar; Cara Memandikan Mayat; Tarikh Tamaddun Islam; Sejarah Kejadian Syara` Tulis Arab (diterbitkan di Malaysia); Tarekh Abi al-Hasan al-Asy`ari; Sejarah Literatur Islam; dan Poligami dalam Islam.[4]
Dari karya-karyanya ini, dapat dipastikan bahwa Abdul Halim Hasan adalah seorang ulama yang mumpuni berbicara tentang ke-Islaman, tidak terkecuali tafsir Alquran sebagai spesifikasinya. 
Abdul Halim Hasan meninggal dunia pada har Sabtu tanggal 15 November 1969 dalam usia 68 tahun 6 bulan. Sehari sebelumnya (Jumat, 14 November 1969) setelah selesai melaksanakan shalat Jumat di Masjid Raya Binjai, ia bermaksud untuk mengikuti shalat jenazah seorang ustaz M. Rasyid Nur di Masjid Muhammadiyah Binjai. Ketika sedang berjalan, tiba-tiba ia jatuh dan langsung di bawa ke Rumah Sakit PNP II Bangkatan Binjai. Ternyata Abdul Halaim terjangkit pendarahan otak sehingga tidak tertolong lagi.[5]
C. Metode Penafsiran
Munurut guru besar tafsir dan ilmu-ilmu Alquran Univesitas al-Azhar, Dr. Abdul Hay al-Farmawi, setidaknya, dalam penafsiran Alquran dikenal empat macam metode tafsir, yakni metode tahlili, metode ijmali, metode muqaran, dan metode maudhu’i.[6]
Metode tafsir tahlili merupakan cara menafsirkan ayat-ayat Alquran dengan mendeskripsikan uraian-uraian makna yang terkandung  dalam ayat-ayat Alquran dengan mengikuti tertib susunan surat-surat dan ayat-ayat Alquran itu sendiri dengan sedikit banyak melakukan analisis di dalamnya.[7]
Metode tafsir Ijmali adalah cara menafsirkan Alquran menurut susunan (urutan) bacaannya dengan suatu penafsiran ayat demi ayat secara sederhana yang akan dapat dipahami orang-orang tertentu dan selainnya dengan tujuan mendapatkan pemahaman dengan cara yang ringkas.[8]
Metode tafsir muqaran adalah tafsir yang dilakukan dengan cara membanding-bandingkan ayat-ayat Alquran yang memiliki redaksi berbeda padahal isi kandungannya sama, atau antara ayat-ayat yang memiliki redaksi yang mirip padahal isi kandungannya berlainan atau juga ayat-ayat Alquran yang selintas tampak berlawanan dengan hadis, padahal pada hakikatnya sama sekali tidak bertentangan.[9]
Adapun metode tafsir maudhu’i adalah tafsir yang membahas tentang  masalah-masalah Alquran yang memiliki kesamaan makna atau tujuan dengan cara menghimpun ayat-ayatnya, untuk kemudian melakukan penalaran (analisis) terhadap isi kandungannya menurut cara-cara tertentu dan berdasarkan syarat-syarat tertentu untuk menjelaskan makna-maknanya dan mengeluarkan unsur-unsurnya serta menghubung-hubungkan antara yang satu dengan yang lain dengan korelasi yang bersifat komprehensif.[10]
Jelas sekali terlihat dalam tafsir ini, metode yang digunakan, yakni metode tafsir maudhu`i/tematik, karena yang dibahas dalam tafsir ini hanya ayat-ayat hukum, bukan ayat-ayat yang lain. Dalam menafsirkan Alquran, Abdul Halim memilih hanya 250 ayat hukum saja, yang terletak diberbagai surat. Abdul Halim sendiri berucap:
“Adapun Alquran mengandung lebih 6000 ayat yang menerangkan berbagai macam pokok yang berhubungan dengan iman, ibadat maupun muamalat dengan Allah dan muamalat dengan manusia dan sebagainya. Dari jumlah itu, ayat hukum hanya beberapa ratus saja. Imam al-Ghazali berpendapat 500 ayat dan imam-imam yang lain berpendapat 200 aya saja. Dalam kitab ini (Tafsir al-Ahkam) kami hanya akan menafsirkan ayat-ayat yang mengenai hukum itu sebanyak 250 ayat saja. Maka kami namakan kitab ini Tafsir al-Ahkam, artinya tafsir ayat-ayat yang berhubungan dengan hukum.”[11]
Dari penjelasan pengantarnya tafsir ini, jelas bahwa Tafsir al-Ahkam  tergolong dalam metode tafsir maudhu`i.
D. Corak Penafsiran
            Menurut Quraish Shihab, ada enam corak penafsiran terhadap ayat-ayat Alquran yang dikenal selama ini, yaitu:
1      Corak sastra bahasa
2      Corak filsafat dan teologi
3      Corak penafsiran ilmiah
4      Corak fikih atau hukum
5      Corak tasawuf
6      Corak sastra budaya kemasyarakatan.[12]
Sedangkan Muhammad Amin Suma berpendapat, selain corak-corak di atas, ia menambahkan beberapa corak lagi dalam penafsiran Alquran, yaitu: corak tarbawi  (Pendidikan) dan corak Akhlaqi.[13] Namun, dari penjelasan ini, penulis tidak mendapatkan corak yang cocok untuk Tafsir al-Khazin ini.
Menurut Dr. Abdul Hay al-Farmawi menjelaskan bahwa dalam tafsir tahlili ada beberapa corak penafsiran, yakni tafsir bi al-Ma`tsur, tafsir bi ar-Ray`, tafsir ash-Shufi, tafsir al-Fiqhi, tafsir al-Falsafi, tafsir al-`Ilmi, dan tafsir al-Adabi al-Ijtima`i.[14]
            Dalam menentukan corak tafsir dari suatu kitab tafsir, dalam hal ini adalah Tafsir al-Ahkam, yang diperhatikan adalah hal yang dominan dalam tafsir tersebut. Sesuai dengan judul tafsir tersebut, al-Ahkam, tergambar dibenak pembaca, tafsir ini bercorak hukum, karena memang tafsir ini berbicara tentang ayat-ayat hukum, atau ayat-ayat Alquran yang mengandung aspek hukum  dalam Islam.
            Dari sini, jika disejajarkan dengan apa yang diungkapkan oleh Prof. Quraish Shihab dan Dr. Abdul Hay al-Farmawi, maka Tafsir al-Ahkam dapat dikategorikan pada corak yang keempat, yakni corak fikih dan hukum Islam.
E. Contoh Tafsiran
            Untuk lebih jelas bagaimana Abdul Halim menafsir ayat-ayat hukum, penulis akan menyajikan cuplikan tafsir Abdul Halim tentang poligami, sebagai berikut:[15]
   “Allah SWT berfirman:
وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi, dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”
   Di dalam sahihain, Sunan Nasa’i, Baihaqi dan dalam Tafsir Ibnu Jarir, Ibnu Mundzir, dan Ibnu Abi Hatim, dari Urwah bin Zubair, sesungguhnya dia telah bertanya kepada bibinya Aisah Ummu al-Mukminin mengenai ayat ini, dia berkata, “Wahai anak saudaraku! Perempuan itu berada dalam pemeliharaan walinya, bersama-sama dengan harta yang dipusakainya, sedang orang itu suka kepada harta dan kecantikan anak yatim itu. Dia bermaksud mengawininya dengan tidak berlaku jujur menurut pembayaran yang diserahkannya kepada orang lain. Sebab itu, maka dilaranglah menikahinya, kecuali jika mau berlaku jujur dengan memberikan mahar yang sebaik-baiknya dan bersamaan dengan itu disuruh juga menikahi perempuan yang lain-lain.”
   Ringkasnya, jika kamu merasa takut tidak mempu berlaku jujur dalam pernikahanmu dengan anak-anak yatim yang berada dalam penjagaanmu, maka tinggalkanlah mengawini anak-anak yatim itu dan kawinlah dengan perempuan-perempuan lain yang kamu pandang baik, satu, dua, tiga, atau empat. Rabi’ah berkata, “Tinggalkan anak-anak yatim itu dan kawini yang lain.”
   Ustaz al-Imam setelah menerangkan perkataan Aisah dengan ringkas, lalu berkata, “Apabila kamu bermaksud hendak mengawini anak yatim dan kamu merasa takut akan termakan hartanya, maka janganlah kamu kawini anak yatim itu dan kawinlah dengan perempuan lain yang baik-baik.” Dengan keterangan Aisyah ini teranglah hubungan antara perintah kawin dengan pemeliharaan anak yatim, tidaklah berarti syarat bolehnya perkawinan itu oleh karena takut memelihara anak yatim. Ulama sepakat untuk mengatakan, bahwa syarat yang tersebut dalam ayat ini, tidaklah menjadi satu ketentuan untuk membolehkan perkawinan dengan perempuan lain, yaitu bolehnya bagi orang yang merasa takut tidak akan berlaku jujur terhadap anak yatim, kawin dengan perempuan lain, lebih dari satu orang, dua, tiga atau empat orang.
   Menurut jamaah dari Salaf, ayat ini me-nasakh-kan perbuatan-perbuatan yang telah terjadi pada zaman Jahiliah dan permulaan Islam, yaitu seorang laki-laki boleh mengawini perempuan-perempuan yang mereka sukai berapa saja banyaknya dengan tidak terbatas, hanya menurut kemampuan dan kesukaan hatinya saja. Karena itulah dia jadi sasaran dua kalimat yaitu, pertama, jika mereka merasa takut tidak akan berlaku adil terhadap perempuan-perempuan dan kedua merasa berat kawin dengan anak-anak yatim namun tidak merasa berat dengan perempuan-perempuan lain.
   Dengan ayat ini diambil dalil, haram kawin dengan perempuan lebih dari empat orang. Jika ada orang yang berpendapat bahwa ayat menunjukkan bolehnya seorang laki-laki kawin dengan sembilan orang perempuan yaitu jumlah dari dua, tiga, dan empat, tidaklah dapat diterima pendirian yang seperti itu, karena dalam ayat ini ada kata “atau”, jadi maknanya boleh pilih dua, tiga atau empat orang. Kawin lebih dari empat orang itu hanyalah ketentuan bagi Nabi Muhammad SAW. saja tidak dibolehkan bagi orang lain, seperti tersebut dalam hadis Ibnu Umar, diriwayatkan oleh Tirmizi, dan dia berkata,
“Bahwasannya Ghailan bin Salamah Tsaqofi telah memeluk agama Islam sedang dia mempunyai sembilan orang istri yang dikawininya pada zaman Jahiliah dan semuanya memeluk agama Islam bersama-sama dengan dia. Maka nabi memerintahkan kepadanya, supaya dipilihnya empat orang saja diantara mereka dan menceraikan yang lain.”
Adapun hamba tidak boleh menikahi perempuan lebih dari dua orang. Dalam salah satu riwayatnya Malik berkata, “hamba itu boleh menikahi perempuan sampai empat orang, dengan mengambil dalil ayat ini. Syafi’i berkata, “ayat ini hanya ditunjukkan kepada orang yang merdeka, karena ujung ayat ini berbunyi, maka jika kamu merasa takut tidak dapat berlaku adil, cukuplah seorang saja atau apa yang telah dimiliki.”
Maksudnya, jika kamu merasa takut tidak akan dapat berlaku adil dalam memenuhi gilirannya masing-masing diantara istri-istri itu, atau tidak dapat berlaku adil dalam membagi nafkahnya, maka kamu kawinlah seorang saja, atau kamu kawini sahaya-sahaya perempuan (amah). Yang dimaksud dengan menikahi sahaya-sahaya perempuan itu ialah membeli mereka, bukan dengan jalan dikawini, karena sebenarnya sahaya-sahaya itu tidak mempunyai hak apa-apa, baik giliran maupun pembagian rezeki dan lain-lain.
“Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya,” demikian keterangan-keterangan kebanyakan ahli tafsir. Tetapi Syafi’i berpendapat ألا تعولوا itu berarti, lebih dekat agar kamu tidak banyak mendapat anak. Tegasnya karena kamu mengawini banyak perempuan maka kamu banyak mendapat anak, maka dengan satu orang istri saja kamu tidak akan banyak mendapat anak.
Tsa’labi menolak keterangan Syafi’i itu dengan menegaskan, bahwa (ألا تعولوا) dengan arti banyak itu tidak dapat diterima. Tetapi keterangan Tsa’labi dapat dijawab, karena sebelum Syafi’i, seperti Zaid bin Aslam dan Jabir bin Zaid, keduanya telah menafsirkan ayat ini seperti tafsir Syafi’i, dan mereka tidak akan menafsirkan Al-Quran itu kalau tidak mempunyai kemampuan bahasa Arab dari pada kita, barangkali yang dikatakannya itu adalah satu lughat (bahasa).”
Ibnu Amri Al-Duri berkata, “alla” dengan makna banyak adalah bahasa Himyar. Mereka berkata,
وإن الموت يأخذوا كل حي ؛ بلا شك وإن امشى وعلا
“Mati itu akan menjemput segala yang bernyawa, tak ragu, sekalipun dia punya ternak dan banyak pula.”
Demikian cuplikan Tafsir al-Ahkam sebagai contoh supaya tergembar di benak cara penafsiran Abdul Halim terhadap ayat-ayat hukum dalam Alquran. Namun, sebenarnya, untuk mengetahui atau mendalami pemikiran Abdul Halim tentang poligami, ia menuliskan satu buku khusus tentang itu, yakni Poligami dalam Islam.
Dari penafsiran ini, terlihat jelas bahwa Abdul Halim juga mengutip dari pendapat-pendapat ulama, dan mencoba untuk merajihkan salah satunya. Pendapat ulama yang dikutipnya, bukan hanya ulama-ulama klasik, tapi juga ulama kontemporer; bukan saja ulama yang bebas dari hujatan orang lain, seperti Imam asy-Syafi`i, tapi juga ulama yang dianggap kontroversial, seperti Ustaz al-Imam, yakni Muhammad Abduh. Dari sini, benar apa yang dihipotesakan oleh Azhari Akmal Tarigan bahwa Abdul Halim adalah ulama wasatiyah (pertengahan), dalam arti tidak liberal dan tidak pula tradisional.
F. Komentar Ulama
Sulit bagi penulis untuk mencari komentar ulama tentang Tafsir al-Ahkam ini. Faktornya adalah karena Abdul Halim adalah ulama Sumatera Utara, dan berkiprah di Binjai. Namun, penulis berusaha mencari komentar ulama dan pemikir kontemporer, menimal ulama dan pemikir Islam kontemporer Sumatera Utara. Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sumatera utara, H. Mahmud Aziz Siregar, MA. berkomentar, “Salah satu karya monumental beliau (Abdul Halim Hasan) lainnya adalah Tafsir al-Ahkam ini. Dengan merujuk kepada kompetensi beliau dalam ilmu tafsir, kami berpendapat bahwa apa yang diuraikan beliau pada karyanya ini tidak perlu diragukanlagi keabsahan ilmiahnya.”[16]
Rektor IAIN SU, Prof. Dr. Yasir Nasution menyatakan, “Kitab tafsir ini memusatkan pembahasannya pada aspek hukum Islam dalam arti nilai-nilai dan ketentuan yang berkaitan secara langsung dengan perilaku dan kehidupan real umat. Dengan demikian, kitab ini dapat dijadikan pedoman lansung, baik dalam kehidupan individu maupun bagi kehidupan kolektif, sebab dimensi hukum ajaran Islam adalah bagian yang paling berhubungan langsung dengan kehidupan real dan pengalaman seseorang.”[17]
Dr. Lahmuddin Nasution menjelaskan, “Jika selama ini masyarakat hanya mengenal karyanya yang berjudul Tafsir Al-Qur’anul Karim yang ditulisnya bersama dua orang ulama besar lainnya yaitu, H. Zainal Arifin Abbas dan Abdur Rahim Haitami, ternyata beliau memiliki sebuah karya tafsir yang khusus membahas ayat-ayat hukum. Karya ini sangat istimewa, karena sepanjang yang saya ketahui belum ada Tafsir Ayat al-Ahkam yang terbit pada awal abad XX dalam bahasa Indonesia.”[18]
Prof. Dr. Abdullah Syah menjelaskan, “Hemat saya, kitab tafsir ini sangat baik untuk dibaca. Di tengah sulitnya mencari kitab tafsir khususnya yang berkenaan dengan hukum-hukum Islam dalam bahasa Indonesia, kitab ini terbit pada masa yang sangat tepat. Lebih dari itu, dengan membacanya, wawasan dan ilmu kita semakin luas, khususnya dalam bidang hukum Islam.”[19]
G. Analisis Kelebihan dan Kelemahan
            Beranjak dari pujian-pujian ulama di atas, jelas tafsir ini memiliki banyak kelebihan, diantaranya:
  1. Kitab tafsir ini sangat cocok bagi masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Sumatera Utara, karena tafsir ini ditulis dalam bahasa Indonesia yang pastinya mudah dicerna dan dipahami. Bukan hanya itu, penulis juga adalah orang Sumatera Utara sendiri, sehingga penulisnya sangat menyesuaikan dengan kondiri lokal.
  2. Kitab ini sangat bersentuhan dengan kebutuhan praktis keagamaan umat Islam, karena buku ini dikhususkan untuk menjelaskan ayat-ayat fikih atau hukum, yang diketahui bahwa pembahasan fikih sangat bersentuhan dengan praktis keagamaan umat Islam.
  3. Dalam menafsirkan suatu ayat hukum, penulis mengkomparasikan dengan ayat-ayat lain, yang berbicara tema yang sama, sehingga pembaca mendapat makna atau tafsiran yang sempurna. Tidak hanya itu, penulis juga banyak menyebutkan riwayat-riwayat hadis yang berkaitan dengan tema atau ayat yang ditafsirkan.
  4. Kitab ini, bukan hanya kumpulan pendapat atau hemat penulis saja. Buku ini juga diperkuat dengan pendapat-pendapat ulama yang mu`tabar lainnya. Bukan hanya itu, pendapat-pendapat yang ada juga didebatkan oleh Abdul Halim sehingga dapat dirajihkan pendapat yang terkuat dan layak diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai manusia biasa, Abdul Halim, dalam tafsirnya ini juga memiliki kelemahan. Tetapi kelemahan-kelemahan itu seolah tidak tampak jika dibanding dengan kelebihan-kelebihan yang dimilikinya. Di antara kelemahan itu adalah:
  1. Walau dalam tafsirnya, Abdul Halim mengkomparasikan dengan ayat-ayat yang lain, namun, di beberapa tempat Abdul Halim meninggalkannya, sebagai contoh dalam menafsirkan ayat poligami di atas, Abdul Halim tidak mencantumkan ayat QS. an-Nisa’: 129 yang secara kandungan sangat berkaitan.
  2. Dalam menafsirkan beberapa ayat hukum juga, Abdul Halim terlihat tidak sempurna merujuk pada hadis-hadis bersangkutan, sebagai contoh tafsir ayat poligami di atas, Abdul Halim tidak mencantumkan hadis pelarangan Nabi Saw kepada Ali untuk berpoligami atau memadu anaknya, Fatimah. Terlepas dari setuju atau tidak setujunya Abdul Halim terhadap poligami, namun setidaknya, setelah dicantumkan QS. an-Nisa’: 129 dan hadis larangan poligami Ali, pembaca mendapatkan informasi yang lengkap tentang poligami menurut Alquran dan Islam.
H. Penutup
            Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
  1. Tafsir al-Ahkam adalah tafsir yang tematik yang hanya membahas tentang ayat-ayat hukum, dalam hal ini, pengarang hanya menafsirkan 250 ayat hukum.
  2. Pengarang tafsir ini adalah Syaikh Abdul Halim Hasan Binjai. Beliau adalah orang Binjai Sumatera Utara, lahir pada tahun 1901 dan meninggal dunia pada tahun 1969.
  3. Metode yang digunakan dalam Tafsir al-Ahkam ini adalah metode tafsir maudhu`i atau tematik, dalam hal ini adalah ayat-ayat hukum dalam Alquran.
  4. Corak tafsir ini adalah corak fikih dan hukum Islam, sesuai dengan namanya Tafsir al-Ahkam.
  5. Banyak kelebihan tafsir ini, sehingga kelemahannya seolah tidak tampak di mata pembaca. Di antara kelebihan yang paling menonjol adalah, tafsir ini khusus berbicara masalah hukum, yang bersentuhan langsung dengan kehidupan umat Islam. Selain itu, tafsir ini sangat cocok untuk orang Indonesia dan khususnya Sumatera Utara, karena berbahasa Indonesia dan pengarangnya sendiri adalah orang Sumatera Utara.
  6. Tidak sedikit ulama Sumatera Utara memuji keberadaan tafsir ini, dari mulai kalangan akademis, sampau kalangan masyarakat umum, karena beliau sendiri adalah penda’i masyarakat umum.
Allahu a`lam.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Alma’i, Zahir bin ‘Awadh. Dirasat fi al-Tafsir al-Maudhu’i li al-Qur’an al-
Karim. Riyadh: 1404 H.
Binjai, Abdul Halim Hasan. Tafsir al-Ahkam. Jakarta: Kencana, 2006.
Al-Farmawi, Abdul Hayy. al-Bidayah fi al-Tafsir al-Maudhu’i. Kairo: Dar ath-
thaba’ah wa an-Nasyr al-Islami, 2005.
Muslim, Musthafa. Mahabits fi al-Tafsir al-Maudhu’i. Damsyiq: Dar al-Qalam,
1410 H/1989 M.
Nasution, Lahmuddin. Sambutan, dalam Abdul Halim Hasan Binjai. Tafsir al-
Ahkam. Jakarta: Kencana, 2006.
Nasution, Yasir. Sambutan, dalam Abdul Halim Hasan Binjai. Tafsir al-Ahkam.
Jakarta: Kencana, 2006.
Shihab, M. Quraish.  Membumikan Al-Qur’an. Bandung: Mizan, 1992.
Siregar, Muhammad Aziz. Sambutan, dalam Abdul Halim Hasan Binjai. Tafsir
al-Ahkam. Jakarta: Kencana, 2006.
Suma, Muhammad Amin. Studi Ilmu-Ilmu Al-Quran. Jakarta: Pustaka Firdaus,
2001.
Syah, Abdullah. Sambutan, dalam Abdul Halim Hasan Binjai. Tafsir al-Ahkam.
Jakarta: Kencana, 2006.
Tarigan, Azhari Akmal. Prolog Syekh Abd Halim Hasan (1901-1969): Mederatisme
dalam Pemikiran Hukum Islam, dalam Abdul Halim Hasan Binjai. Tafsir
al-Ahkam. Jakarta: Kencana, 2006.